• Biografi Tokoh Islam

    Kumpulan Biografi Para Tokoh Islam Ternama dan Sejarah Perkembangan Islam Dunia

  • Biografi Penemu Dunia

    Kumpulan Biografi Para Penemu Terkenal di Dunia dan Sejarah Pertama Penemuannya

  • Biografi Pahlawan Indonesia

    Kumpulan Biografi Para Pahlawan Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan Indonesia

Showing posts with label Proklamator. Show all posts
Showing posts with label Proklamator. Show all posts

Sosok Soekarno dan Dukungan untuk Palestina

Jejak Dukungan Bung Karno untuk Kemerdekaan PalestinaPernyataan Presiden Pertama RI Soekarno atau Bung Karno tentang dukungannya kepada Palestina kembali mengemuka seiring tindakan Israel terhadap rakyat Palestina. "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel," begitu pernyataan Soekarno, 1962. 

Dukungan Bung Karno terhadap kemerdekaan Palestina tak terbantahkan dan selalu konsisten. Bukan sekadar lewat kata-kata, tapi juga dibuktikan melalui tindakan nyata. Meskipun Bung Karno belum pernah menjejakkan kaki di tanah Palestina, jejak dukungannya untuk kemerdekaan Palestina telah terpatri dalam catatan sejarah.

Dukungan pemerintah Indonesia, yang digaungkan Bung Karno, terhadap kemerdekaan Palestina tak lepas dari sokongan yang diberikan pemerintah dan rakyat Palestina terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944, mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Berdasarkan buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya M Zein Hassan Lc Lt, sejak dukungan yang disampaikan secara terbuka melalui siaran radio Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, jalanan di Palestina dipenuhi gelombang aksi solidaritas dan dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. "Terimalah kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia," kata saudagar kaya Palestina, Muhammad Ali Taher saat membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 1944.

Setelah merdeka, saat Indonesia membutuhkan pengakuan sebagai negara berdaulat, lagi-lagi rakyat Palestina bergerak, mendorong Mesir mengakui Indonesia. Pengakuan kedaualatan dari Mesir dan Palestina pada 1947 itu merupakan buah diplomasi H Agus Salim melalui jaringan Ikhwanul Muslimin, yang berbasis di Palestina.

Setelah merdeka, Indonesia di bawah Bung Karno juga mendukung rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan Israel. Indonesia tak pernah mau mengakui negara Israel yang diproklamasikan oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina. Itulah sebabnya, sejak zaman Bung Karno Indonesia tak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. 

Ketika Indonesia benar-benar mendapatkan kedaulatannya secara penuh pada 1949, barulah negara-negara lain di dunia ikut memberikan pengakuan termasuk Israel. Ya’acov Shimoni, Kepala Divisi Asia pada 5 Desember 1949 mengusulkan dibukanya kantor konsulat Israel di Indonesia. Untuk itu, Presiden Israel Chaim Weizmann (1874 –1952) dan Perdana Menteri Ben Gurion menulis surat kepada Soekarno yang berisi ucapan selamat.

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Israel saat itu, Moshe Sharett pada Januari 1950 juga mengirim telegram kepada Mohammad Hatta yang berisi pengakuan penuh Israel terhadap kedaulatan Indonesia. Namun, Bung Karno tidak pernah menanggapi telegram dari Israel tersebut dan hanya Mohammad Hatta yang menanggapi hanya dengan ucapan terima kasih tanpa menawarkan hubungan diplomatik. Namun, Israel tetap tidak menyerah dan berbagai upaya dilakukan untuk membuka celah hubungan dengan pemerintah Indonesia. 

Pada awal 1950, Sharett kembali menulis surat kepada Hatta mengenai rencana pengiriman misi muhibah ke Indonesia. Kembali lagi, Hatta atas nama pemerintah Indonesia membalas surat tertanggal 6 Mei 1950 yang berisi agar misi tersebut ditunda tanpa memberikan batas waktunya. Bahkan, pada akhir 1950, ketika pengusaha besar Israel RP Goldman melakukan kunjungan ke beberapa negara Asia, termasuk Indonesia untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan. Namun, delegasi bisnis Israel tersebut tidak mendapat respons positif dari Soekarno.

Dukungan Bung Karno terhadap Palestina ditunjukkan saat mulai menggagas Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1953. Indonesia dan Pakistan menolak keras diikutsertakannya Israel dalam konferensi tersebut. Israel yang didirikan atas bantuan Inggris dinilai bentuk nyata kolonialisme baru yang mengancam perdamaian dunia. Sebaliknya, saat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955, Soekarno mengundang Palestina meskipun saat itu belum diakui sebagai negara merdeka. Mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini datang dan mewakili kepentingan Palestina.

Dalam pidato pembukaan KAA, Soekarno secara lantang memberikan dukungan kepada negara-negara yang masih mengalami penjajahan. "Kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya," kata Soekarno. 

Semangat Bandung yang menyuarakan antiimperialisme dan kolonialisme bergaung hingga negeri Palestina. Pidato pembukaan Soekarno di KAA juga menginspirasi tokoh perjuangan kemerdekaan Yasser Arafat yang lahir pada tanggal 24 Agustus 1929 atau saat itu berusia berusia 34 tahun. Pidato tersebut juga menjadi dukungan moril bagi ribuan pejuang kemerdekaan Palestina lainnya.

Pasca-KAA, solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika menguat dan semangat antikolonialisme makin membara di dada rakyat kedua benua. Soekarno pun makin keras mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Sikap keras Bung Karno juga ditunjukkan melalui tim sepak bola nasional (Timnas) Indonesia. Pada 1957, Timnas Indonesia juara Grup 1 Zona Asia setelah di laga akhir mengalahkan China. Tim asuhan Antony Pocganick pada putaran kedua dipertemukan juara grup dari zona Asia dan Afrika, yaitu Mesir, Israel, dan Sudan. 

Pertandingan dijadwalkan berlangsung akhir Juli 1957. Artinya, selangkah lagi Ramang dkk melenggang ke Piala Dunia 1958 di Swedia. Namun, Timnas menolak dan memilih tidak tampil di Piala Dunia ketimbang beradu di satu lapangan dengan Israel. Mesir dan Sudan juga menolak bertanding, begitu juga sejumlah tim pengganti, seperti Turki. Maulwi Saelan, mantan kiper Timnas Indonesia yang juga ajudan Bung Karno, mengatakan, mundurnya Timnas Indonesia karena perintah Soekarno. Padahal saat itu Indonesia yang bergabung di penyisihan wilayah Asia Timur, telah menundukkan China.

"Itu sama saja mengakui Israel," ujar Maulwi menirukan ucapan Bung Karno, seperti dikutip dari Historia. "Ya, kita nurut. Nggak jadi berangkat," kata pria yang pernah membawa Indonesia menahan imbang Uni Soviet dalam Olimpiade Melbourne 1956. Israel pun keluar sebagai juara grup tanpa lawan. Sial, meski melenggang ke babak play off, Israel gagal ke putaran final karena dua kali dari Wales (home and away). Pada Piala Dunia 1958 tak ada satu pun wakil Asia.

Dukungan terhadap Palestina kembali dilakukan Bung Karno ketika Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Caranya, pemerintah Indonesia tak memberikan visa kepada kontingen Israel dengan alasan Indonesia tak mempunyai hubungan diplomatik. Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tak ditentukan.

Hukuman itu tak membuat Bung Karno lemah, sebaliknya Bung Karno justru memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia keluar dari IOC pada Februari 1963. "Sebagai jawabannya Soekarno membentuk Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada 1963 yang menjadi pertanda kebesaran bangsa ini dan pertanda ketidaktergantungan pada kekuatan-kekuatan dunia yang ada," tulis John D Legge dalam Sukarno: Biografi Politik.

Ganefo yang disebut-sebut sebagai ajang tandingan Olimpiade itu, akhirnya atas inisiatif keras Bung Karno dapat digelar dengan sangat meriah dan gempita di Jakarta 10-22 November 1963. Sebanyak 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin ikut ambil bagian. Tercatat tak kurang dari 2.700 atlet berkompetisi pada 20 cabang olahraga. Republik Rakyat China keluar sebagai juara, Uni Soviet di urutan ke-2, dan Indonesia di peringkat ke-3.

Dukungan Soekarno terhadap Palestina tidak pernah luntur meskipun kekuasaan pemerintahannya mulai limbung setelah peristiwa G-30S/PKI. Pada pidato Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-21 Republik Indonesia 17 Agustus 1966, Bung Karno terus menggelorakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. "Kita harus bangga, bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus. Bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!” kata Soekarno sebagaimana dimuat dalam Revolusi Belum Selesai.

Dukungan di Era Soeharto

Indonesia memang selalu memperjuangkan kemerdekaan Palestina sejak puluhan tahun lalu. Semangat dan dukungan untuk kemerdekaan Palestina juga diteruskan oleh mantan Presiden Soeharto. Di era Presiden Soeharto salah satu bentuk dukungan ditunjukkan secara simbolis melalui prangko Indonesia tahun 1978 bernilai 100 rupiah, bergambar Qubbatus Sakhra sebagai ikon masjid Al-Aqsa. Dalam gambar prangko itu, terdapat tulisan kalimat dukungan untuk Palestina yang dalam hal ini, untuk kesejahteraan keluarga dan para syuhada dan pejuang kemerdekaan Palestina.

Terdapat kisah menarik saat Raja dan Ratu Yordania berkunjung ke Indonesia pada tahun 1986 lalu. Saat perjamuan makan tiba, mantan Presiden Soeharto dengan tegas menyatakan bahwa kemerdekaan untuk Palestina adalah hal yang mutlak. Begitu pula dengan Raja Hussein dan Ratu Noor Hussein yang dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap Palestina. Soeharto merasa bahwa tak perlu lagi masyarakat bertanya bagaimana sikap indonesia dalam menyikapi permasalahan tersebut.

Mantan Presiden Soeharto dengan konsisten memberikan dukungan penuh kepada Palestina supaya dengan segera mendapatkah hak-haknya. “Sejak semula, Indonesia secara konsekuen dan konsisten mendukung perjuangan bangsa Arab dan rakyat Palestina untuk mengembalikan seluruh wilayah Arab yang diduduki Israel sejak 1967 dan hak-hak sah rakyat Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri,”ujar mantan Presiden RI kedua ini. Demikianlah seperti dikutip dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 11 Maret 1988 yang diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 2003. Buku ini sendiri ditulis oleh Team dokumentasi Presiden RI.

Mantan Presiden Soeharto menambahkan bahwa seperti Palestina, Yordania memiliki tempat tersendiri di hati rakyat Indonesia. Seperti diketahui bahwa Yordania adalah salah satu negara pertama dari sekian negara yang mengakui kemerdekaan negara Indonesia. Bangsa Indonesia tidak akan melupakan peristiwa penting dan bersejarah itu. Begitupula dengan dukungan Yordania kepada Indonesia yang akan selalu dikenang dan dingat. Soeharto juga tak segan untuk menyatakan kekagumannya dan apresiasinya terhadap pemimpin Yordania tersebut.

“Rakyat Indonesia menyambut Raja Hussein lebih dari seorang tamu, karena ia adalah seorang pemimpin dan tokoh pejuang bangsa Arab yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan memulihkan hak-hak Arab atas wilayah yang secara tidak sah diduduki israel,’’kata Soeharto. Soeharto juga menegaskan bahwa sejatinya rakyat Yordania telah menunjukkan kepedulian dan rasa kesetiakawanannya terhadap sesama. “Indonesia akan selalu ingat bahwa dalam perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaannya empat dasawarsa yang lalu, pemerintah dan rakyat Yordania telah menunjukkan rasa setia kawan dan rasa persaudaraannya yang dalam,”tegasnya.

Pahlawan Proklamator Kemerdekaan Indonesia

Pahlawan Proklamator Kemerdekaan Indonesia ~ Pahlawan Proklamator Kemerdekaan Indonesia adalah pahlawan yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pahlawan Proklamator terdiri atas dua orang, yaitu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.

Dr. Ir. Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya. Sukarno lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 terjadilah peristiwa Rengasdengklok, Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang.

Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan momen tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada tahun 1955 Peresiden Soekarno mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa.

Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia. Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Setelah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September atau G30S pada 1965 Situasi politik Indonesia menjadi tidak menentu. Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut masih merupakan kontroversi walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya. Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan. Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik.

Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS. Pidato tersebut berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. MPRS kemudian meminta Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Soekarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama. Hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka Soeharto de facto menjadi kepala pemerintahan Indonesia. Setelah melakukan Sidang Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan Presiden Soekarno, mencabut gelar Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI hingga diselenggarakan pemilihan umum berikutnya.

Sejak bulan Agustus 1965 kesehatan Soekarno sudah mulai menurun. Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964. Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional. Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi. Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan. Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati.

Dr. Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Muhammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia bersama Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Orang tua Mohammad Hatta bernama Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902. Namanya, Athar berasal dari bahasa Arab, yang berarti "harum". Ia merupakan anak kedua, setelah Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, ia telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri. Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang. Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di Jakarta.

Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta. Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Ia lalu pindah ke ELS di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913, kemudian melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917. Selain pengetahuan umum, ia telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya. Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Usaha dan juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di Jakarta.

Pada tahun 1941, Mohammad Hatta menulis artikel di koran Pemandangan yang isinya supaya rakyat Indonesia jangan memihak kepada baik ke pihak Barat ataupun fasisme Jepang. Pada tanggal 8 Desember 1941, angkatan perang Jepang menyerang Pearl Harbor, Hawaii. Ini memicu Perang Pasifik, dan setelah Pearl Harbor, Jepang segera menguasai sejumlah daerah, termasuk Indonesia. Dalam keadaan genting tersebut, Pemerintah Belanda memerintahkan untuk memindahkan orang-orang buangan dari Digul ke Australia, karena khawatir kerjasama dengan Jepang. Hatta dan Syahrir dipindahkan pada Februari 1942, ke Sukabumi setelah menginap sehari di Surabaya dan naik kereta api ke Jakarta. Bersama kedua orang ini, turut pula 3 orang anak-anak dari Banda yang dijadikan anak angkat oleh Syahrir.

Setelah itu, ia dibawa kembali ke Jakarta. Ia bertemu Mayor Jenderal Harada. Hatta menanyakan keinginan Jepang datang ke Indonesia. Harada menawarkan kerjasama dengan Hatta. Kalau mau, ia akan diberi jabatan penting. Hatta menolak, dan memilih menjadi penasihat. Ia dijadikan penasihat dan diberi kantor di Pegangsaan Timur dan rumah di Oranje Boulevard (Jalan Diponegoro). Orang terkenal di masa sebelum perang, baik orang pergerakan, atau mereka yang bekerjasama dengan Belanda, diikut sertakan seperti Abdul Karim Pringgodigdo, Surachman, Sujitno Mangunkususmo, Sunarjo Kolopaking, Supomo, dan Sumargo Djojohadikusumo. Pada masa ini, ia banyak mendapat tenaga-tenaga baru.

Sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya namanya menjadi Bandar udara internasional Jakarta, Bandar Udara Soekarno-Hatta. Selain diabadikan di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem dengan nama Mohammed Hattastraat. Pada tahun 1980, ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Bung Hatta ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986/.