
Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta)—yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI—di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah.
Pendidikan
Pesantren Siwalan Panci, Jawa Timur (4 tahun) Pesantren Tebuireng, Jawa Timur (1y1/2y tahun)
Madrasah Mamba'ul Ulum, Jamsaren, Solo (7 tahun)
Pesantren Kiai Cholil, Bangkalan, Madura (1 tahun)
Pesantren Ngamplang, Garut, Jawa Barat (1y1/2y tahun)
Karier
Ketua Cabang NU, Malang (1926-1930)
Anggota PB NU (1930-1945)
Ketua Umum PB NU (1950-1956)
Ketua Golongan Islam DPR/MPR (1957*1971)
Ketua I PB NU (1957*1959)
Ketua Umum Pusat Sarbumusi (1960*1969)
Rois Awal PB NU (1963*1972)
Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PPP/Wakil Presiden PPP (1973* 1985)
Rois Tsani PB Syuriah NU (1979*1984)
Mustasyar PB NU (1984*sekarang)
Pendiri Peta di Jawa (1943*1945)
Anggota Pengurus Latihan Kemiliteran di Cisarua (1944*1945)
Pimpinan Tertinggi Hizbullah Sabilillah (1945)
Anggota PP Legiun Veteran RI (1975)
Ketua III Dewan Harian Nasional Angkatan 45 (1976*1994)
Anggota PPKI (1944)
Anggota KNIP (1945*1946)
Anggota Dewan Pertahanan Negara (1946*1948)
Menteri Agama RI (1948*1950)
Kepala Kantor Urusan Agama Pusat (1950*1953)
Menteri Agama RI (1953*1955)
Anggota DPR (1956*1960)
Anggota DPRGR (1960*1971)
Biro Politik Kotrar (1962*1966)
Anggota DPA (1968)
Kegiatan Lain
Dewan Kurator Universitas Islam Indonesia (1948- 1955)
Dewan Kurator Perguruan Tinggi Ilmu Quran (1977-1994)
Ketua Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) 1980-1994